Wahai Senja

Wahai senja yang kemuning malu-malu, menyiratkan semburat kemerahan, ronamu, yang membuat ku-iri dengan cantikmu. Senjaku, ku tak pernah bisa berlari untuk menggapaimu, juga menggapitmu, membawamu dalam pelukan mesra. Karena aku hanya bisa termangu menatapmu tiap hari-hariku, dari celah-celah jendela yang terbuka, atau ketika tak sengaja kutemukan bangku taman saat kau mulai datang. Senja..senja..senja..

Senjaku di langit, tak akan berpaling, tak akan pernah pergi, dia menemani dalam hati dan jiwa, juga batin, mata, ingatan, kenangan, dan keabadian. Kukecup engkau dengan tatapan rinduku, senja. Kumanja kau dengan mataku yang selalu mengintipmu dalam bilik-bilik persembunyianku.

Lalu aku mulai bangkit dari singgasana rotan yang meliuk indah di sudut bilik. Kuambil setangkai mawar, kali ini berwarna putih besih. Kurapikan tuksedo putih berbahan pintalan dari negeri jauh di seberang. Kupastikan cermin merestuiku, dan alam raya ikut berkhidmat. Sepatu pantofel hitam yang telah tersemir memantulkan cahayamu yang selalu malu-malu, juga rambut-rambut halus pada atas bibir telah ku punahkan demi pesona sang rupawan. Pelan-pelan kuberjalan menuju altar di pekarangan yang dilatari lautan teduh, gemetar, oleh sambutan sang jagad. Ku taruh setangkai mawar putih dalam vas indah pada sebuah meja putih di depanmu. Juga cincin pengikat kita.

“Kusunting kau, senja.” lirihku dalam kesunyian.

Kilatan cahaya dari seorang fotografer merupakan salah satu saksi kita. Burung-burung adalah wali kesucian abadi aku dan kamu.  Abadi dan indah, hanya indah, tanpa luka. Wahai senjaku.

Jatinangor, 18 September 2013